Senin, 21 Oktober 2013

Bahagia? atau bahkan ini sebuah kesedihan?

Entah ini apa namanya. Bahagia? atau bahkan ini sebuah kesedihan?

   Aku Sisca, anak bungsu dari 2 bersaudara. jarak dengan kakak ku yang cukup jauh ditambah dengan kesibukkan keluargaku itu semua yang membawaku tak akrab dengan mereka. Wajar saja, orangtuaku pembisnis. Lebih banyak menghabiskan waktunya untuk meeting dengan client membuat orangtuaku tak punya banyak waktu bersama anak-anakny asekalipun itu weekend. 
    Aku terlahir dengan bergelimpahan harta. Tapi sayang, aku tergolong miskin masalah kasih sayang keluarga. Aku lebih nyaman dengan nenek dan kakekku. Namun sayang, mereka yang ku sayang sudah menghadap Sang Kuasa disaat usiaku menginjak 11 tahun. Dan sekarang aku telah remaja. Remaja labil diusia 16 tahun.
   Sosok ku seketika berubah disaat aku berada di lingkungan sekolah. seolah-olah aku lupa semua masalah yang ada dikeluargaku. canda dan tawa bersama teman-teman jauh lebih indah ketimbang harus memikirkan keluarga yang tak jelas itu.
   Namun kesedihanku kembali muncul ketika aku lulus SMP. Berpisah dengan kedelapan sahabatku. Tifanny, Cindy, Revita, Arief, Anin, Buya, Naufal, Vadhol. Mereka semua yang mengerti keadaan ku mulai dari keluarga hingga sifat burukku. ya walaupun aku harus bersyukur karena nilai kelulusanky terbaik se-SMPku.
   Lagi-lagi masalah datang. lagi-lagi bersumber dari orangtuaku. Mereka memaksaku untuk masuk SMA pilihan mereka. memang sekolah pilihan mereka akreditasinya jauh lebih bagus dibanding sekolah pilihanku. tapi aku punya alasan mengapa aku ingin masuk SMA Mutiara Bangsa. Simple aja. cuma satu! karena kedelapan sahabatku beserta Niko, kekasihku dulu resmi menjadi murid di sekolah itu. dan cuma mereka yang bisa mengerti keadaanku. jadi gak perlu susah-susah cari sahabat yang mau jadi teman yang gak lihat dari harta aja.
   Dan disini aku kalah posisi. Ayah, ibu dan kakaku setuju kalau aku bersekolah di sekolah Harapan Bangsa. "kapan lagi kamu bisa banggain orangtua kalo kamu nggak sekolah disitu?" Bujuk kakakku. "tapi ayah juga nggak pernah bikin Sisca bangga, kak! gak pernah bikin sisca bahagisa dengan kasih-sayang dan waktu mereka!" Balas ku dengan sedikit kasar.
   "mereka itu cari uang! dan kamu yang paling kecil disini, jadi mau-nggak mau kamu harus mau. udah nggak usah tolol deh!" tambahnya sambil masuk menuju kamar istimewanya itu.
   entah, mungkin ini yang cocok untukku. dan akhirnya aku-pun mau bersekolah di sekolah mewah itu.
   aku menjalani seperti pada umumnya. mulai dari pendaftaran sampai MOS aku jalani. ketika masuk pertama kali, tidak ada kata indah dan bahagia di benakku. ku pandangi satu-persatu muka anak-anak manja yang sebaya denganku dan kakak kelas yang sombong yang siap menjadi pemandangan rutinku selama 3 tahun kedepan.
   "hai aku Rani, boleh kenalan?" tiba-tiba terdengan pertanyaan yang diajukkan padaku.
"ha? iya. aku sisca. salam kenal ya." jawabku kaget.
   "okey, boleh aku duduk sebangku dengan mu?" pintanya.
"silahkan" jawabku singkat sambil berbagi bangku dengannya. 
   rani adalah orang pertama yang aku kenal di sekolah ini. dan hanya sosok rani yang nyaman denganku sampai akhir masa MOS. entah itu kebetulan atau tidak, Rani menjadi teman satu kelas lagi ketika pembagian kelas satu.
   Selamat datanng di sekolah Mutiara Bangsa ini. satu kesan pertama yang kudapat dikelas satu ini individualisme dan cenderung berkelompok. dengan wajah-wajah belagu yang hanya dapat menyombongkan harta orangtua. 
   sampai pada akhirnya aku merasa nyaman menjadi salah satu murid di sekolah ini ketika masuk tiga bulan berjalan. karena telah ada moodboster yang siap untuk menghiburku ditengah penatnya pelajaran anak SMA. Reza L Karim sebut dia dengan panggilan akrap "Mr.Kepo". 
   Cowok super kece yang berhasil buat aku membagi hati antara dia dengan Niko. Pacar ku saat itu yang sekarang telah menjadi mantan setelah 2 tahun lebih kami bersama menjadi sepasang kekasih. Putus karena kehadiran Reza yang datang tanpa permisi dan memberi perhatian lebih dibanding Niko yang berbeda sekolah dengan ku. 
   Jalan~makan~bahkan nonton-pun sering aku jalani berdua bersama Reza. banyak tawa yang keluar dari bibir manis nan polos kami berdua.
   Perkenalan kami berdua berawal ketika pulang sekolah, kami saling bercerita masa SMP. Reza menceritakan masa indah SMPnya dulu. Yabes teman paling resek ku masa Sekolah Dasar ternyata menjadi sahabat Reza. Dan konyolnya lagi Yabes pdkt dengan Saverina sahabat terbaikku sejak SMP. Ide untuk menjadikan Yabes dengan Saverina menjadi sepasanag kekasih-pun membuat pertemanan ku dengan Reza berubah menjadi hal yang bisa dikatakan lebih dari sebatas teman biasa. 
   Hari demi hari telah ku lalui bersama Reza walaupun dengan status pacar Nico dan Reza menjadi pacar Diva. Sampai saatnya tiba tepat tanggal 28 Oktober 2002 Reza memutuskan berpisah dengan Diva dengan alasan hati yang sudah tidak nyaman lagi. 29 Oktober 2002 kabar itu terdengar langsung di kedua daun telinga ku dan detik itu pula aku berani memutuskan untuk mengambil keputusan yang sama, Berpisah! ya.. berpisah dengan Niko dan memilih status single dan berharap terjadi sesuatu yang lebih dengan Reza. "gak boleh pacaran dulu sama mama." Sebenarnya alasan basi dan sudah kadaluarsa untuk sekedar bisa putus dan gamau membuat sakit yang terlalu mendalam yang dirasakan Niko. Tapi mau gimana lagi cobak? mau alesan apa? masak iya bilang"aku uda gak nyaman lagi sama kamu, uda ada Reza yang lebih perhatian dibanding kamu. aku uda gak sayang lagi!" bukan kata putus yang kudapatkan, bisa-bisa golok beserta kawan-kawannya melayang sempurna di tubuh tinggi nan kurus ini. Yapss.. masih punya perasaan sih akunya, gimana cobak setelah 2 hari Niko sms gak au bales, tiba-tiba dapet balasan bilang putus kayak gitu. Sakit kan ya? iyaa sakit banget malah hahaha ciyan luh Nik :p 
Oke, back to my new lovely Mr.Kepo :3 setelah semua resmi dengan status single semua berjalan seperti air yang yang mengalir, daun yang menari dan angin yang berhembus lembut dan rumput yang bergoyang :D *duh alay gue-_- 
Lebih sering keluar atau jalan bareng untuk sekedar makan diluar itulah yang sering kami lakukan. Indah~bahagia~ serasa dunia milik berdua *terus yang lain gimana? kontrak gitu?-_-*  banyak kejadian yang mungkin melebihi orang pacaran. Satu hal yang aku salut banget dengan Reza ketika dia berani minta izin kepada orang tuaku untuk makan setelah aku pulang telat dari sekolah. Izin ke orang tuaku itu sama aja dengan masuk kandang gajah yang punya sifat macan. Cuek banget tapi kalo mereka gak suka langsung ngomong langsung to the point ke orang yang bersangkutan. bikin malu kan? yaaa itu lah orang tuaku. Tapi entah mantra apa yang dibaca Reza sehingga dia berhasil mendapat izin untuk jalan bersama ku malam itu. 
Tapi hal ini gak berlangsung lama, Rabu 22 November 2002 sore hari menjadi hari paling suram di sepanjang sejarah hidupku. Mendapat kiriman pesan singkat dari Reza, bukan malah senang malah sesak yang kudapat. "Aku kok nyamannya sama kamu kok cuma jadi sahabat yaaaa :)" shock banget kan pastinya :"( padahal sering kali Reza bilang kalo dia suayang banget sama aku. Eh taunya.. dapet sms kayak gitu~ Sedih pasti! bisa dibilang karma yang aku dapet dari perilaku ku terhadap Niko. Tapi mau gimana lagi? malam tiba, tapi jari-jemari mungil ini terasa tak ingin berhenti untuk hanya sekedar mengetahui alesan apa dia mengutarakan seperti itu kepada ku.      Sekitar pukul 7 malam, alasan mengapa hal ini terjadi terucap dari bibir mungil yang terwakilkan oleh handphone yang bisu namun tau segalanya. "I like you. I was very comfort when with you but not to make you my girlfriend. cause if we're break  I was so afraid of losing you. but I want more than this. I miss you so bad boo" itulah pesan singkat yang ku dapatkan yang berhasil membuat ku tak hanya meneteskan air mata tapi tapi menangis tanpa henti dengan membayangkan memory indah yang pernah ku buat tanpa sengaja bersamanya. Kenapa dia berkata seperti itu setelah aku sayang melebihi sayangku ke Niko, Tuhaan???!!! Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, besi sudah mulai berkarat tak mungkin bisa dikembalikan sesempurna awalnya. Seperi hatiku yang awalnya melambung bahagia lalu dihempaskan tanpa berfikir sakit atau tidak, itu lah keadaanku saat itu. 
Mungkin bukan hanya aku, tapi semua wanita di dunia akan langsung berubah setelah mendapat kenyataan seperti itu. Berubah secara otomatis menjadi cuek itulah yang terjadi dengan ku pada saat itu. Alhamdulillah...Reza peka dengan keberubahaannya sikap ku terhadapnya "after this, are you hate me? i had made mistake against you, waste the people who have loved me." sms itu lah yang aku trima setelah  sikap ku berubah. "NO! I cann't hate you. you don't make a mistake with me. I believe, we will be happy without us being relationship"  balasan seperti itu yang aku kirim dengan tetesan air mata yang mewakili persaan kalut ku.
"good night cantik, maaf kalo kata-kataku buat kamu sedih, nyenyak ya bobok mu {}" mungkin emotion peluk terakhir yang ku dapatkan setelah kejadian 22 November 2002 itu.
23 November 2002 siang keputusan untuk mebicarakan secara langsung semua permasalahan yang terjadi semalam. Pergi ke salah satu tempat nongkrong setelah pulang sekolah tiba. Dan untuk pertama kalinya aku melihat seorang Reza menangis secara langsung setelah aku berkata "apa selanjutnya cukup sampai disini? Menghapus memori yang menurutku sangat indah yang pernah kita buat bersama dan menjadi pribadi yang tak saling sapa bahkan tak saling kenal atau menjadi musuh? mau pilih yang mana? karna semua pilihan ada 2, baik dan buruk. Jujur saat ini mungkin lebih indah walopun sakit daripada berbohong untuk sedikit menghiburku dan akan menghasilkan air mata yang lebih banyak dikemudian hari!"
Hanya diam dan membisu sambil meneteskan air mata dari kedua kelopak matanya yang mulai memerah. "apa kamu keputusan terburuk seperti itu? bunuh aku sekarang jika kamu memilihnya!!!" Rangkaian kata itu lah yang membuat aku semakin tidak kuat untuk menahan derita dan mataku tak sanggup untuk mengusir air mata untuk segera keluar tanda menolak pilihan konyol yang sengaja aku buat. 
Mungkin karna rasa sayang yang sudah mendekam direlung hati kami berdua dan rasa sayang itu lah yang membuat kami memilih untuk ~lanjut menjalani kehidupan seperti biasa dengan status hanya sebatas teman biasa dan menganggap tidak ada kejadian yang menyakitkan di malam tanggal 22 november 2002~
Walaupun sakit rasanya dengan pilihan seperti itu yang telah kami sepakati bersama dan melihat dia asik bersendah gurau dengan perempuan lain ditemani gitar unik. Cemburu-pun tak pantas! yaa... 3 kata itu yang pas untuk kondisi ku saat ini.
   ternyata aku telah menemukan jawabannya. kau telah menemukan bidadari cantik wahai pangeranku. dan perlu engkau tau, aku merasa di puncak klimaks kesedihan hidupku.jika aku bisa memilih, lebih baik aku mati dan melihat senyum indahmu bersama bidadari cantikmu itu di surga bersama Allah.
   Hhh... tak ada pilihan lain selain tetep menjalani hidup dengan melihat senyummi itu yang merekah indah tapi bukan sebabku. tetap melihat engkau yang masih menjadi pangeran di hidupku bersama orang yang kau cinta menyebabkan sifatmu kepadaku berubah. dan statusmu miliknya dan bukan dan tak mungkin bisa beruba menjadi milikku.
   aku menjadi ingat kenangan indah bersamamu itu. ketika kau mengajakku berkenalan dengan orangtuamu. "ayah..ibu, ini Sisca" jelasmu singkat kepada orangtuamu, untuk membuka acara makan malam sederhana tapi teramat spesial bagiku. "sisca siapa lagi? temen sekolah? atau...?" gurau lembut ibundamu berbalut senyum kasih sayang. "iya ibu. ini teman reza." tambahmu kepada mereka. "saya sisca, om..tante. temen sekolahnya reza." jawabku perlahan. "itu yakin temen lu za. bukannya lu kemarin cerita ke abang pingin banget bisa jadi pacar sisca?" sahut bang Ramon, menuju ruang makan untuk makan bersama."udah deh bang, buruan duduk kita mulai makan malamnya." jawab papa reza dengan bijaknya. makan malampun dimulai dengan berbalur suasana hangat
   sempat shock, ketika mendengar rangkaian kata yang diucapkan bang ramon. . tak akan pernah aku lupakan. 
   dan ternyata kenangan itu semua hadir dalam mimpi. mimpi itu telah membuat hatiku tak karuan. bukan teringat sosokmu wahai pangeran, tapi aku rindu petuah-petuah yang orangtuamu sampaikan yang jarang aku dapatkan dikeluargaku. entah firasat apa itu. bagiku itu semua misteri. 
   tak sangka pukul 18:45 WIB, kabar mengejutkan sampai ditelingaku. Ibunda Reza sudah menghadap ke Yang Kuasa yang selama ini yang sudah keanggap menjadi ibuku sendiri. 
"zaa, kamu sabar ya.. ibumu tenang disisi-Nya. udah di surga kok sama Allah. semuanya sayang reza." kalimat itu yang sebenarnya ingin sekali kuungkapkan, namun aku tak sanggup melakukannya. 
  keesokan harinya aku beranikan kakiku untuk mengunjungi rumah duka, semata-mata untuk memberi penghormatan terakhir untuk sang ibunda. namun sayang, aku meliat sang bidadari cantikmu datang dengan membawa sekotak roti empuk untukmu yang seketika membuat ku kecewa. entah mengapa, seolah ragaku ini tak mampu menopang dayaku. aku bersyukur ada dua sahabatku yang mendampingiku saat ini, memberikan tissue dan sandaran pundaknya kepada ku. entah campur aduk yang kurasakan saat itu.
   satu minggu kemudian aku mendapat kabar yang menurut batinku sangat gembira. "sis, reza putus sama bidadarinya. ini saatnya kamu beraksi. ambil reza kembali." seru rani. 
"iya ran, aku tau. tapi immposible kalo aku pacaran sama reza." jawabku lesu. 
"siscaaa....semangat dong. lesu amat sih!" tambah tristi, sahabatku juga. 
"nggak ah buat apa ngejar yang nggak pasti. kalopun dia masih sayang ke aku, pasti dia bakal kembali sendiri kali. atau setidaknya dia minta maaf gitu."
"gimana dia nggak kembali ke kamu, kalo kamunya aja nggak mau usaha." tambah rani memberiku semangat.
"denger ya, rumusnya itu cowok nggak suka sama cewek yang agresif. kalopun aku usaha tapi dianya nggak niat kan percuma. udah deh ya, aku bersyukur punya kalian. kalian selalu suport aku, tapi maaf kali ini aku ingin memulainya semua dari nol. seperti orang yang nggak kenal, nggak saling sapa. gampang kan? maaf ya  ran, ti. you're my beloved" jelasku sambil memeluk mereka. 
"sisca kuat ya sayang, kita bakalan suport kamu terus kok." sahut mereka. 

*3 bulan kemudian*

   senyum mataharipun kembali tampak, menyambutku riang. segeraku bersiap untuk segera menuju tempat dimana aku benar-benar dihargai semua pendapatku. SMA Harapan Bangsa. tak lupa aku menuju euang makan untuk sekedar minum segelas sus yang selalu siap. tapi bukan ibuku yang menyiapkannya, namun asisten rumah tanggalah yang melakukan semua itu. 
   dan hari itu semakin tak karuan ketika aku mendapat kabar bahwa reza tewas kecelakaan ketika perjalan menuju sekolah. Tuhan apa salahku? apa salahku sehingga kau mengambil orang-orang yang aku sayang. walaupun reza tak bisa berpacaran denganku, setidaknya aku bisa melihat senyumnya. tapi sekarang? tinggal nama yang bisa aku dengar bersama kenangan indah bersamanyaa.
   aku mengiringi jasadmu. jasad seorang pangeran ku. aku harap engkau tenang disana bersama ibundamu. disini aku bangga telah menjadi bagian dari hidupmu, walaupun itu sesaat. 
   itulah kisahku, kisah masa SMAku. kini aku telah menyelesaikan study kedokteranku di Jerman dengan kondisi keluargaku yang semakin memburuk