untukmu, yang selalu kuacuhkan.
Handphone
jadul ini masih tetap menjadi saksi bisu. saksi dimana kita saling mengirim
pesan romantis. Pesan singkatmu yang berisi cacian, bentakkanmu, yang selalu membuatku sadar akan ketakutanmu kehilangan sosokku yang selalu kau anggap paling
spesial di hidupmu. dulu, aku selalu tersenyum jika terdengar bunyi dari handphone itu.
namun, entah apa yang merubah ku sehingga aku tak lagi menyukai bunyi itu
ketika ku lihat namamu yang kembali muncul di layar handphone jadul peninggalan
ayahku itu.
Ketika menyadari aku telah berubah. aku berusaha untuk mengembalikan diriku
yang dulu. yang selalu menunggu kehadiranmu. semua mimpi-mimpiku terhadapmu
dulu tak ingin lagi kugapai. semua kenangan tentangmu dulu denganku tak lagi ingin ku kenang. telah ku tinggalkan semua tentangmu. entah, faktor apa yang
mempengaruhiku. semua seperti membalikkan telapak tangan. berubah dengan begitu
cepat.
yang ada dalam ingatanku hanya tentang semua keburukanmu kepadaku saat kita bersama. saat
belum ada dia yang selalu membuatku lebih nyaman ketimbang berada di dekatmu.
bukan maksudku untuk menggantikan posisimu dengannya. tapi perlakuannya
terhadapku yang membuat rasa nyamanku yang semula selalu engkau dekap erat di
pelukanmu kini telat berpindah di pelukannya.
Aku tau. ini bukan semata-mata keinginanmu atau keinginanku. ini semua takdir.
kita harus menjalaninya. rasa cintaku sekarang terhadapmu seolah hilang dengan
kehadirannya yang datang dengan apik lalu pergi meninggalkanku setelah aku
benar-benar jatuh hati kepadanya. Dan bodohnya engkau mengetuinya. aku ingin kau juga ikut membenciku karena aku
telah mencampakkanmu. pergi meninggalkanmu demi orang yang tak jelas dan
akhirnya pun dia meninggalkanku.
Tradisi mengirim pesan singkat untuk mengucapkan selamat pagi pun masih engkau
lakukan untukku. sedangkan, tak satupun sms yang aku balas untuk mengucapkan
hal yang sama untukmu. kau masih selalu mengingatkan aku untuk makan lewat sms
sederhana mu. "jangan lupa makan ya" kata-kata itu yang selalu aku
dapat di setiap jam-jam makan di setiap harinya. tak satupun yang aku balas
walau hanya ucapan terima kasih. engkau masih selalu mengucapkan selamat tidur
untukku di tidur malamku yang di selimuti dinginnya malam kota metropolitan
ini. lagi-lagi tak satupun sms yang aku balas seraya memberikan kesempatan untukku untuk mengetahui bagaimana keadaanku. iya, engaku masih melakukan tradisi yang sengaja kita buat dulu saat
kita masih bersama.
Liciknya. aku selalu mencarimu d isaat tak satu pun orang yang mau peduli
terhadap jiwa&raga ku ini. aku mengirimkan pesan singkat kepadamu.
walaupun itu singkat, tapi aku yakin balasanmu pasti tak mengecewakan. engkau
masih mencemaskan kondisiku. engkau selalu menanyakan kabarku ini. tapi ketika
keadaan kembali seperti semula, engkau kembali kuacuhkan.
Ini bukan ujian yang aku berikan untukmu. bukan skenario yang sengaja aku buat
untukmu seraya merayakan ulang tahunmu seperti anak jaman sekarang. semuanya salah. sebenarnya aku juga tak
ingin menyiksamu dengan perlakuanku ini. namun, ini berjalan apa adanya. tak
ada yang dipaksa tapi aku yakin engkau terpaksa dengan hal ini.
Dalam benakku, aku ingin, dia yang sekarang ku cinta seperti engkau yang selalu
merindukanku walaupun tak ada satupun hembusan angin yang memberimu kabar tentangku. aku
ingin, dia seperti engkau yang selalu menanyakan bagaimana kondisiku seperti
orangtua yang meninggalkan anaknya pergi ke luar kota. aku ingin engkau selalu
menyakan "sudah makan?" kepadaku seperti seorang ibu yang selalu
khawatir kesehatan anak-anaknya.
Aku ingin dia bisa seperti mu. dan aku ingin engkau seperti dia. aku tak
mengerti ini apa namanya. nasib, takdir ataukah karma yang Tuhan berikan
kepadaku sehingga semua yang aku inginkan selalu tak sejalan dengan
keputusan-Nya? entah.
