Ketika semua lupa akan Tuhan
Tepat pukul 6 pagi. Ratusan kendaraan memadati jalanan kota. Dengan penuh keegoisannya dan rasa ketidak-puasan manusia yang ingin segera sampai tujuan guna memenuhi kebutuhan hidup, mereka semua lupa akan Tuhan.
Aku Dessy Laksamana Rahman, anak tunggal dari ayah seorang pemimpin perusahaan terbesar di kota ku dan seorang ibu direktur utama sebuah sebuah bank swasta yang cukup besar aku terlahir sebagai anak yang mandiri.
Aku genap berusia 17 tahun. Dimana usia yang cukup dewasa dalam segala hal. Biasanya di hari jadi ke-17 ini, banyak remaja yang merayakannya bersama keluarga dan teman sebayanya. Namun tidak dengan ku, aku hanya mampu merasakan ulang tahun ku tahun ini dengan melihat orang tua ku yang sibuk bekerja dan terus bekerja. Bukan kami tidak mampu membuat pesta mewah yang bertema glamour sweet seventeen party, tapi dengan kesibukan orang tua ku yang menganggap uang lebih penting dari segalanya.
Aku mengerti semua yang dilakukan orang tua ku itu semata-mata mereka persembahkan buatku. Dan aku pun sempat bertanya kepada mereka saat melangsungkan acara makan malam bersama yang sulit kami lakukan karena kesibukan orang tua ku “mama? Papa? Kenapa sih kalian tidak pernah ada waktu buat Dessy?! Kan Dessy juga ingin seperti teman-teman Dessy yang selalu crita yang terjadi di keluarganya. Dessy merasa malu pa..ma.., saat teman Dessy bercerita, Dessy hanya bisa melihatnya, dan sedikit kecewa dan berfikir kenapa sih papa sama mama tidak bisa melakukan itu semua?!” tanya ku. “kita semua melakukan ini juga untuk kebaikanmu, masa depanmu, sayang..” jawab mereka kompak dan langsung meninggalkan ku sendiri di ruang makan.
Tidak hanya aku yang merasa di nomer-dua-kan dengan kesibukan mereka mencari uang yang berasalan semua demi kebaikanku dan masa depanku. Tuhan.. yang menciptakan semuanya, mengatur hidup-mati seseorang, rejeki-jodoh dan maut menusiapun juga mereka lupakan.
Mama dan papa ku, mereka semua sudah lupa. Lupa siapa yang menciptakan mereka, lupa siapa yang memberi kesehatan mereka, lupa siapa yang memberi keselamatan mereka. Ya.. mereka lupa akan Tuhan. Mereka pernah mencelaku disaat aku berusaha mengingatkan mereka untuk melakukan kewajiban sebagai umat Islam. Aku mengajaknya seraya mengingatkan mereka untuk menegakkan sholat, dan sontak mereka menjawab “sayang, kalau kamu ingin sholat.. sholat aja sendiri. Toh juga apa sih gunanya kita sholat. Kita sudah punya segalanya, harta? Kekuasaan? Kita punya segalanya sayang!!” ujar mereka.
Aku meneteskan air mata. Kenapa sekarang orang tua ku berubah. Sudah lupa keluarga, lupa sama anak, terlebih mereka lupa akan Tuhan. Jika seperti ini, lalu siapa yang salah? Mereka menganggap uang adalah segalanya.
Empat bulan yang lalu, berita duka menyelimuti keluarga kami. Mama ku mengalami kecelakaan saat melakukan perjalanan udara menuju Bali. Pesawat yang mama tumpangi jatuh karena salah satu ban pesawat pecah. Mama mengalami luka yang cukup serius. Beliau sempat koma selama 4 hari dan akhirnya siuman.
Saat mama membutuhkan doa dan semangat dari orang yang mama sayang, papa masih sempat memikirkan pekerjaannya yang tak kunjung usai. “pa.. kalau papa terus mengurus perusahaan saja, Dessy akan pergi dan jangan harap Dessy kembali.” Ancaman yang aku berikan pada papa. “iya sayang, papa akan menemani mama dan tidak akan memikirkan perusahaan sampai mama sembuh total.” Ujar papa yang membuat mama siuman.
Setelah mama menjalani rawat inap selama 3 minggu, mama diperbolehkan pulang. Rasa syukur terus aku panjatkan kepada Allah karena setelah kejadian mama mengalami kecelakaan, keluarga ku kembali harmonis dan mereka pun menjadi orang tua yang ku inginkan. Orang tua yang selalu ada waktu untukku, orang tua yang selalu mengajarkanku tentang arti pentingnya agama dalam kehidupan didunia.
Aku sempat berfikir “apa mereka (orang tua ku) baru sadar setelah mama mengalami kecelakaan. Apa itu teguran yang diberikan Tuhan kepada orang tua ku? Tapi aku tetap bersyukur dan tetap berfikir optimis, KARENA SETIAP KEJADIAN PASTI ADA HIKMAHNYA.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar