Senin, 06 Februari 2012

kisah nyata


Perbedaan

          Sore ini aku duduk termenung dan berfikir kenapa aku hidup jika hanya untuk disakiti. Aku dilahirkan dari keluarga yang cukup mapan. Ayahku seorang polisi dan bundaku seorang ibu rumah tangga yang cukup sabar.  Aku mempunyai seorang kakak perempuan cantik. Perbadaan usia kami cukup jauh, kakak kelas satu Sekolah Dasar sedangkan aku baru saja dilahirkan. Dan akupun sekarang sudah beranjak remaja.
 Suasana dikeluarga kami cukup harmonis. Management dikeluarga kami pun bisa dibilang berhasil, dengan dipimpin seorang ayah yang berjiwa kemiliteran yang tegas, disiplin, namun sabar. Aku tercipta sebagai anak yang cukup tegar dengan konidisi ku yang lemah.
Sejak kecil aku sudah difonis sebagai anak yang mengidap penyakit Tumor Ganas yang cukup parah. Namun aku cukup tegar dan tidak mau mengalah dengan keadaan. Aku bersekolah seperti selayaknya anak normal yang menuntut ilmu seraya kebutuhan hidup.
          Diusia ku sekarang yang sudah beranjak remaja, aku mulai merasakan perbedaan dikeluargaku. Ayah dan bunda sering memperlakukan ku berbeda dengan perlakuan mereka kepada kakak perempuan ku itu. Aku pun sempat berfikir “Apa aku bukan anak kandung mereka?” . Dengan beberapa  perlakuan mereka, aku semakin yakin bahwa ada perbedaan antara aku dan kakak.            Perbedaan perlakuan itu semakin ku rasakan setiap harinya, disaat kakak ku sudah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dan masuk diperguruan tinggi negeri terkemuka di negara ku Indonesia. Tidak itu saja, terlebih kakak sudah menjadi kekasih Mas Irwan. Kekasih kakak yang sudah mapan. Pekerjaan kekasih kakak adalah seorang polisi yang membuat ayah menjadi lebih perhatian dan lebih menganggap contohlah kakak mu itu.
Beberapa contoh perbedaan perlakuan yang dilakukan kedua orang tua ku kepadaku yaitu disaat diskusi merundingkan rencana ayah yang ingin pergi berlibur diliburan tahun ini. “Ayo, jadi kemana kita berlibur tahun ini?” tanya ayah kepada semua anggota keluarga. “terserah yah.. yang penting kita menjadi senang saat berlibur nanti.” Ujar bunda memberi penjelasan. “iya ayah tau  bun, tapi mungkin saja anak – anak ayah punya ide yang bagus.” Tambah ayah. “ayo kak? Kakak ingin berlibur kemana? Kalau bisa sih Mas Irwan juga ikut berlibur!” tanya ayahku kepada kakak. “kalau kakak sih terserah yah, gimana kalau kita ke Malang saja. toh juga letak Malang tidak terlalu jauh dan cocok untuk liburan tahun ini.” Jelas kakak. “apa ayah? Mas Irwan ikut?! Kenapa sih Mas Irwan harus ikut? Kan Mas Irwan belum menjadi keluarga inti kita yah!” sahut ku seraya protes kepada ayah. “kamu itu dek, langsung aja nyahut omongan. Kan ayah belum minta kamu untuk bicara. Lagian ayah juga pernah merasakan menjadi Mas Irwan. Sudah kamu diam saja.” bentak ayah kepadaku. Rasa kecewa yang menyelimuti hati dan otakku, langsung  membawa tubuhku lari ke kamar dan menutup pintunya dengan sekeras-kerasnya agar mereka mengerti jika aku sedang kecewa kepada mereka.
Air mata ku kembali menetes dengan alunan doa yang aku panjatkan kepada Allah agar hati ku menjadi tenang. Terselip sebuah tanya yang aku tujukan kepada Tuhan ku Yang Maha Adil atas kejadian yang menimpa hidupku. “ya Allah.. hamba mengerti segala kejadian yang menimpa diriku semata-mata itu juga rencana-Mu. Tapi mengapa hidupku serasa tidak berguna? Aku sakit-sakitan, batinku teraniaya, dan itu semua membuatku tak sanggup lagi meneruskan drama didunia yang tidak pasti ini ya Allah.. aku butuh petunjuk-Mu, aku butuh pertolongan-Mu. Jika ini memang yang terbaik untuk ku berikanlah kekuatan batin dan apabila ini bukan yang terbaik untukku tolong  berikan jawaban dan solusi yang terbaik ya Allah.. aku hanya hamba-Mu yang lemah, yang penuh dosa. Tapi aku butuh Engkau ya Allah...”  setelah aku memanjatkan lantunan doa, sedikit ketenangan yang aku dapatkan.
Ya, sepeti itulah perbedaan yang mereka lakukan kepada ku. Untuk menghibur hati dan perasaan ku. Aku mempunyai beberapa teman yang bisa aku percaya dan seorang kekasih yang membuat aku bertahan menjalani  hidup ini sambil menunggu ajal menjemputku.
Sekarang aku menghiraukan semua perlakuan orang tua ku dan berusaha menghibur diri yang kelam sebagai ramaja penyandang Tumor Ganas.


ini kisah nyataa, tapii bukan kisah sayaa loh :D http://karodalnet.blogspot.com/2011/05/kumpulan-cerpen-remaja.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar