Perbedaan
Sore ini aku duduk termenung dan
berfikir kenapa aku hidup jika hanya untuk disakiti. Aku dilahirkan dari
keluarga yang cukup mapan. Ayahku seorang polisi dan bundaku seorang ibu rumah
tangga yang cukup sabar. Aku mempunyai
seorang kakak perempuan cantik. Perbadaan
usia kami cukup jauh, kakak kelas satu Sekolah Dasar sedangkan aku baru saja
dilahirkan. Dan akupun sekarang sudah beranjak remaja.
Suasana dikeluarga kami
cukup harmonis. Management dikeluarga kami pun bisa dibilang berhasil, dengan
dipimpin seorang ayah yang berjiwa kemiliteran yang tegas, disiplin, namun
sabar. Aku tercipta sebagai anak yang cukup tegar dengan konidisi ku yang
lemah.
Sejak kecil aku sudah difonis sebagai anak yang mengidap
penyakit Tumor Ganas yang cukup parah. Namun aku cukup tegar dan tidak mau
mengalah dengan keadaan. Aku bersekolah seperti selayaknya anak normal yang
menuntut ilmu seraya kebutuhan hidup.
Diusia ku
sekarang yang sudah beranjak remaja, aku mulai merasakan perbedaan
dikeluargaku. Ayah dan bunda sering memperlakukan ku berbeda dengan perlakuan
mereka kepada kakak perempuan ku itu. Aku pun sempat berfikir “Apa aku bukan anak kandung mereka?” .
Dengan beberapa perlakuan mereka, aku
semakin yakin bahwa ada perbedaan antara aku dan kakak. Perbedaan
perlakuan itu semakin ku rasakan setiap harinya, disaat kakak ku sudah lulus
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan masuk diperguruan tinggi negeri terkemuka di
negara ku Indonesia. Tidak itu saja, terlebih kakak sudah menjadi kekasih Mas
Irwan. Kekasih kakak yang sudah mapan. Pekerjaan kekasih kakak adalah seorang
polisi yang membuat ayah menjadi lebih perhatian dan lebih menganggap contohlah kakak mu itu.
Beberapa contoh perbedaan perlakuan yang dilakukan kedua orang
tua ku kepadaku yaitu disaat diskusi merundingkan rencana ayah yang ingin pergi
berlibur diliburan tahun ini. “Ayo, jadi kemana kita berlibur tahun ini?” tanya
ayah kepada semua anggota keluarga. “terserah yah.. yang penting kita menjadi
senang saat berlibur nanti.” Ujar bunda memberi penjelasan. “iya ayah tau bun, tapi mungkin saja anak – anak ayah punya
ide yang bagus.” Tambah ayah. “ayo kak? Kakak ingin berlibur kemana? Kalau bisa
sih Mas Irwan juga ikut berlibur!” tanya ayahku kepada kakak. “kalau kakak sih
terserah yah, gimana kalau kita ke Malang saja. toh juga letak Malang tidak
terlalu jauh dan cocok untuk liburan tahun ini.” Jelas kakak. “apa ayah? Mas
Irwan ikut?! Kenapa sih Mas Irwan harus ikut? Kan Mas Irwan belum menjadi
keluarga inti kita yah!” sahut ku seraya protes kepada ayah. “kamu itu dek,
langsung aja nyahut omongan. Kan ayah belum minta kamu untuk bicara. Lagian
ayah juga pernah merasakan menjadi Mas Irwan. Sudah kamu diam saja.” bentak
ayah kepadaku. Rasa kecewa yang menyelimuti hati dan otakku, langsung membawa tubuhku lari ke kamar dan menutup
pintunya dengan sekeras-kerasnya agar mereka mengerti jika aku sedang kecewa
kepada mereka.
Air mata ku kembali menetes dengan alunan doa yang aku
panjatkan kepada Allah agar hati ku menjadi tenang. Terselip sebuah tanya yang
aku tujukan kepada Tuhan ku Yang Maha Adil atas kejadian yang menimpa hidupku. “ya Allah.. hamba mengerti segala kejadian
yang menimpa diriku semata-mata itu juga rencana-Mu. Tapi mengapa hidupku
serasa tidak berguna? Aku sakit-sakitan, batinku teraniaya, dan itu semua
membuatku tak sanggup lagi meneruskan drama didunia yang tidak pasti ini ya
Allah.. aku butuh petunjuk-Mu, aku butuh pertolongan-Mu. Jika ini memang yang
terbaik untuk ku berikanlah kekuatan batin dan apabila ini bukan yang terbaik
untukku tolong berikan jawaban dan
solusi yang terbaik ya Allah.. aku hanya hamba-Mu yang lemah, yang penuh dosa.
Tapi aku butuh Engkau ya Allah...” setelah aku memanjatkan lantunan doa, sedikit
ketenangan yang aku dapatkan.
Ya, sepeti itulah perbedaan yang mereka lakukan kepada ku.
Untuk menghibur hati dan perasaan ku. Aku mempunyai beberapa teman yang bisa
aku percaya dan seorang kekasih yang membuat aku bertahan menjalani hidup ini sambil menunggu ajal menjemputku.
Sekarang aku menghiraukan semua perlakuan orang tua ku dan
berusaha menghibur diri yang kelam sebagai ramaja penyandang Tumor Ganas.
ini kisah nyataa, tapii bukan kisah sayaa loh :D http://karodalnet.blogspot.com/2011/05/kumpulan-cerpen-remaja.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar